SERBA-SERBI KEJURNAS CATUR KE-43


Gelaran Kejurnas Catur ke-43 2013 telah usai dilaksanakan. Meski masih ada beberapa kekurangan, namun secara umum pelaksanaan kejurnas berjalan baik dan lancar. Panitia sukses menggelar pertandingan terbesar sepanjang sejarah kejuaraan catur di Indonesia, baik dari segi hadiah, kategori pertandingan, maupun jumlah peserta yang mendekati angka 1000 peserta. Sepertinya baru pertama kali inilah kejurnas catur menggelar tiga kategori pertandingan sekaligus, yaitu catur standar, catur cepat, dan catur kilat. Tempat penyelenggaraan dan penginapan yang disediakan bagi official dan atlet yang bertanding juga cukup representatif.

Meskipun terbilang sukses, masih banyak hal yang harus diperbaiki dalam penyelenggaraan kejurnas di tahun-tahun mendatang. Munculnya isu-isu kecurangan, kurang pahamnya wasit terhadap peraturan pertandingan, hingga lambatnya penyusunan pairing yang membuat pertandingan molor hingga larut malam, adalah hal-hal yang perlu perbaikan dalam penyelenggaraan kejurnas berikutnya.

Isu kecurangan yang paling banyak dikeluhkan adalah adanya official/pelatih yang membantu atlet-nya dalam menjalankan buah-buah caturnya. Bantuan diberikan dengan memberikan kode-kode tertentu atau memberikan arahan di toilet (modus inilah yang paling banyak digunakan oleh oknum). Meskipun banyak yang mengetahui maupun yang melakukan klaim, namun kecurangan ini sulit dibuktikan karena belum ada dukungan teknologi di ruang pertandingan. Jika saja di ruang pertandingan terdapat fasilitas CCTV, kemungkinan besar kecurangan ini dapat terpantau dan dapat dijadikan sebagai alat bukti. Meskipun demikian, isu kecurangan seperti ini sebenarnya bukan hanya terjadi di Indonesia saja, namun juga terjadi di tingkat ASEAN. Modusnya-pun hampir sama, pergi ke toilet. Biasanya kecurangan ini terjadi karena pertandingan dilaksanakan di gedung terbuka (penonton boleh masuk), official/pelatih boleh masuk, atau toilet berada di luar ruang pertandingan, sehingga memungkinkan oknum official/pelatih untuk “membantu”.

Kekurangan yang lain adalah pemahaman wasit terhadap peraturan pertandingan masih belum sama, sehingga banyak klaim yang muncul terkait dengan peraturan pertandingan. Contoh kasus terjadi di kategori catur kilat, terkait dengan aturan FIDE “…apabila buah catur melewati batas petak dan pemain tetap menekan jam, maka lawan berhak melakukan klaim dan langsung dinyatakan sebagai pemenang…” Di antara wasit sendiri memiliki pemahaman yang berbeda terhadap aturan tersebut. Ada wasit yang menyatakan bahwa pemain dinyatakan kalah jika melewati 50% batas petak, ada yang menyatakan melewati 30%, tetapi ada yang menyatakan bahwa sedikit saja melewati batas petak dan pemain tetap menekan jam, maka sang pemain langsung dinyatakan kalah.

Jadi, manakah wasit yang benar? bukankah sudah ada technical meeting sebelumnya, kenapa di antara wasit sendiri masih belum sepaham? Jadi, ketika ada kejadian buah catur melewati batas petak,  ada beberapa klaim pemain yang diterima wasit, tetapi ada juga klaim yang ditolak oleh wasit yang berbeda karena belum melewati batas 50%. Uniknya, ketika official/pelatih melakukan komplain, sesama wasit sendiri berdebat soal aturan yang benar. Dan uniknya lagi, ada pernyataan oknum yang menyatakan bahwa seorang pecatur harus tahu aturan, kalau tidak tahu aturan tidak usah jadi pemain catur. Sungguh sebuah pernyataan yang tidak layak dikemukan oleh seorang yang mengaku insan catur nasional. Pemain yunior yang baru pertama kali ikut serta dalam pertandingan catur kilat, gimana mau paham terhadap aturan yang sebenarnya kalau informasi-nya saja simpang siur?

Agar semua pemain dan wasit memiliki pemahaman yang sama, ada baiknya wasit ketua mengumumkan kembali aturan yang telah disepakati dalam technical meeting saat pertandingan akan dimulai. Selain mengingatkan kembali aturan yang telah disepakati, hal ini juga berguna bagi pemain yang “belum sempat” mendapat informasi dari official-nya tentang aturan yang berlaku. Dengan pemahaman yang sama, tentunya hal ini dapat menghindarkan adanya komplain saat pertandingan maupun setelah pertandingan selesai.

Hal lain yang menjadi sorotan adalah adanya “midnight chess”, pertandingan catur yang dilaksanakan menjelang tengah malam (22.30 WIB). Menurut saya tidaklah manusiawi memaksakan pelaksanaan pertandingan hingga larut malam, apalagi pertandingan ini diikuti oleh pecatur-pecatur yunior. Pekerja profesional saja ada batasan jam kerja-nya, apalagi ini atlet yunior, yang dipaksa bertanding dari pagi hingga larut malam. Apalagi esok paginya mereka harus siap untuk bertanding lagi, sehingga beberapa atlet masih tampak terkantuk-kantuk pagi harinya. Pekerjaan panitia yang kurang profesional, namun atlet yang menjadi korban. Sungguh sangat disayangkan. Mudah-mudahan tidak ada lagi midnight chess di kejurnas tahun-tahun mendatang.

Demikianlah beberapa catatan dan serba-serbi yang tertangkap dalam penyelenggaran kejurnas catur ke-43 2013. Mudah-mudahan pelaksanaan kejurnas 2014 di Makassar dapat berjalan lebih baik lagi. 

Gens Una Sumus

About caturbandung
Saya bukanlah pecatur dan saya tidak paham tentang catur. Saya hanya orang tua dari salah seorang pecatur yunior kota Bandung yang ingin membagi informasi seputar olahraga catur. Mudah-mudahan bermanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: