Perlukah Catur Menjadi Pelajaran Wajib di Sekolah?


Mulai tahun 2011, pemerintah Armenia memasukkan catur sebagai pelajaran wajib di sekolah dasar. Setiap sekolah umum di Armenia mulai memberikan pelajaran catur kepada murid-murid sekolah dasar ketika mereka belajar di kelas 2, 3, dan 4. Dua kali seminggu murid-murid tersebut belajar catur selama 30 menit, berisi tentang teori-teori dasar permainan catur. Tujuannya adalah agar mereka memiliki pondasi dasar permainan catur di akhir kelas 4, sehingga jika menginginkan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, mereka sudah siap. Penetapan kelas 2 SD sebagai awal pembelajaran catur karena psikolog Armenia menemukan bahwa kelas 2 SD merupakan waktu yang paling tepat untuk menyerap pelajaran catur.

Murid Sekolah Dasar di Armeni sedang belajar catur (Photo: Shant Shahrigian)

Catur menjadi sangat populer di Armenia setelah Tigran Petrosian sukses menjadi juara dunia catur di tahun 1963 dengan mengalahkan Mikhail Botvinnik. Selama 6 tahun kemudian Petrosian sukses mempertahankan juara dunia sebelum ditundukkan oleh Boris Spassky di tahun 1969. Bersama tim Uni Soviet, Petrosian menjuarai olimpiade catur sebanyak 9 kali (1958-1974).

Setelah lepas dari Uni Soviet pada tahun 1991, Armenia mulai unjuk kekuatan di kancah percaturan dunia. Armenia langsung merebut medali perunggu dalam keikutsertaannya yang pertama (sebagai negara Armenia) di olimpiade catur tahun 1992. Setelah kembali merebut medali perunggu pada olimpiade catur 2002 dan 2004, Armenia berhasil menjuarai olimpiade catur 2006, 2008, dan 2012. Tahun 2011 Armenia berhasil menjuarai World Team Championships.

Sukses inilah yang kemudian membawa catur menjadi olahraga favorit di Armenia. Sama seperti sepakbola di Brasil atau basket di Amerika Serikat, hampir seluruh warga Armenia mengenal catur. Dalam perkembangannya, catur menjadi obsesi nasional dan pemerintah memperlakukan seorang grandmaster seperti seorang superstar, layaknya olahraga terkenal lainnya. Setiap kejuaraan akan ditampilkan di papan-papan raksasa dan setiap kemenangan akan dirayakan besar-besaran di seluruh negara. Meski hanya memiliki populasi sekitar 3,2 juta jiwa, namun Armenia mampu menelurkan grandmaster-grandmaster top dunia dan sanggup bersaing dengan negara super seperti China, Rusia, dan Amerika Serikat.

Tahun 2011 Pemerintah Armenia memutuskan untuk memasukkan pelajaran catur ke dalam kurikulum sekolah dasar. Pihak berwenang Armenia percaya bahwa pelajaran catur dapat mengembangkan tingkat intelektual anak dan mampu meningkatkan ketrampilan berpikir kritis anak-anak. Pemerintah telah mengalokasikan dana hampir $1,5 juta ( £920,000 ) untuk menyukseskan program ini.

Adalah GM Smbat Lputian (Presiden Akademi Catur Armenia) yang telah membawa catur masuk ke sekolah-sekolah. Ia menghabiskan musim panas untuk mengorganisir sesi pelatihan bagi guru-guru di seluruh negeri. Lputian mengatakan bahwa membawa catur ke sekolah-sekolah adalah cara terbaik untuk membangun masa depan. Tujuan utama memasukkan catur ke sekolah bukanlah untuk melahirkan grandmaster-grandmaster Armenia berikutnya, tetapi lebih kepada pengembangan pemikiran agar selalu kritis dan untuk menanamkan nilai-nilai perilaku. “Catur sejatinya adalah permainan yang sangat jujur, permainan yang adil” kata Lputian. “Melalui catur seseorang belajar kejujuran. Bagaimana bermain secara jujur. Catur memberikan kesempatan kepada anak 7 tahun untuk berpikir dan membuat keputusan. Catur mungkin menjadi salah satu permainan terbaik untuk melatih konsentrasi dalam jangka waktu yang relatif lama.” Namun Lputian juga berkata bahwa tidak menutup kemungkinan jika nantinya lahir juara dunia baru dari program ini.

Meskipun Armenia telah memulai mewajibkan pelajaran catur bagi murid-murid sekolah dasar, dilakukan juga oleh pemerintah Turki, Norwegia, dan India, masih banyak negara yang menyangsikan efek pengenalan catur terhadap anak-anak ini. Benarkah catur dapat meningkatkan kinerja akademik dan membantu perkembangan perilaku anak-anak?

Beberapa tokoh pendukung kegiatan catur di sekolah-sekolah memberikan berbagai bukti penelitian untuk memperkuat pertimbangan mereka. Sebuah studi yang dilakukan selama 2 tahun di Amerika Serikat, dilakukan oleh Dr Stuart Marguilies, menemukan bahwa belajar catur dapat memperbaiki nilai tes dan kemampuan membaca murid-murid sekolah dasar. Studi lain yang dilakukan Prof Peter Dauvergne, yang juga seorang master catur, menyebutkan bahwa bermain catur dapat meningkatkan IQ, memperkuat keahlian untuk memecahkan masalah, meningkatkan daya ingat, dan menumbuhkan pemikiran yang kreatif.

Inggris

Malcolm Pein, Chief Executive of Chess in Schools and Communities, sebuah program yang memasukkan catur ke sekolah-sekolah di Inggris, mengatakan bahwa terdapat banyak hal yang menyebabkan catur memiliki dampak positif terhadap anak-anak sekolah dasar. “Tidak hanya membantu anak-anak berpikir secara kritis dan meningkatkan konsentrasi, daya ingat dan perhitungan, tetapi catur juga mengajarkan anak-anak untuk bertanggung jawab terhadap tindakan yang dilakukannya,” katanya. “Ada juga pelajaran tentang sikap dan perilaku sosial. Anak-anak memulai dengan berjabat tangan, dan meskipun tidak membuat diam sepenuhnya, itu cukup membuat tenang dan disiplin.” Banyak akademisi yang memainkan catur, karena catur itu bersifat universal dan hampir semua orang dapat memainkannya.

Malcolm Pein adalah pendukung berat masuknya catur ke sekolah-sekolah. Pein, yang juga seorang master sekaligus jurnalis catur, ingin agar catur dapat kembali berkembang di Inggris. Pein telah mengajukan usulan terhadap kurikulum nasional ke Pemerintah Inggris dan merekomendasikan adanya kelas catur, yang dibuat wajib setiap minggu untuk anak-anak SD tahun ke-2 (6 th) atau ke-3 (7 th). Anak-anak usia 6 atau 7 tahun diyakini lebih mudah menerima catur daripada usia di bawahnya.

Namun Raymond Keene, Grandmaster Inggris dan koresponden catur majalah Times, berpendapat lain. Keene sangat setuju terhadap Pein bahwa usia 6 tahun adalah usia yang optimal untuk membentuk anak menjadi seorang grandmaster. “Catur berangkat dari kekuatan otak, bukan pengalaman. Jadi, jika seorang anak sudah baik di usia 6 tahun, mereka bisa menjadi seorang grandmaster pada saat mereka berusia 12 tahun.” Keene melanjutkan, “Catur adalah sebuah proses yang sangat adiktif, obat positif bagi anak-anak. Bahkan ketika mereka bermain secara online, itu jauh lebih baik daripada bermain video game atau menonton televisi.”

Namun Keene masih ragu akan dampak positif memasukkan catur sebagai kurikulum wajib. Inggris bukanlah Armenia. Menurutnya Armenia telah menjadikan catur sebagai budaya sekaligus ambisi nasional. Sangat berbeda dengan budaya Inggris. Mewajibkan catur di sekolah-sekolah Inggris akan membuat warga Inggris “mati”.

Pro kontra masuknya catur menjadi pelajaran wajib juga datang dari pihak sekolah. Kepala sekolah dan guru-guru masih menyangsikan manfaat masuknya catur ke dalam kurikulum sekolah, karena sudah banyak pelajaran yang telah masuk ke dalam kurikulum yang harus dipelajari. Biasanya sekolah hanya menyediakan pelajaran catur berupa ekstrakulikuler, bukan pelajaran wajib.

Bagaimana di Indonesia?

Belum banyak sekolah di Indonesia yang memberikan wadah olahraga catur dalam kegiatan sekolah mereka. Tidak adanya kewajiban memberikan pelajaran catur di setiap sekolah menjadikan catur seperti anak tiri. Kalah bersaing dengan olahraga favorit lainnya, sepakbola, basket, dan senam. Hanya sebagian kecil sekolah yang memasukkan catur dalam kegiatan ekstrakulikuler. Karena tidak wajib diikuti oleh semua murid, biasanya peserta ekstrakulikuler-pun hanya sedikit.

Perkembangan olahraga catur di Indonesia memang sedikit lambat. Meskipun sudah banyak perubahan yang dirasakan dalam 5 tahun terakhir ini, tetapi perkembangan catur di negara lain, khususnya tingkat ASEAN, lebih pesat. Vietnam adalah negara ASEAN yang caturnya berkembang sangat pesat. Pecatur-pecatur yunior Vietnam tidak hanya merajai kejuaraan-kejuaraan tingkat ASEAN, namun juga mampu berbicara dalam kejuaraan tingkat Asia maupun Dunia. Satu lagi negara ASEAN yang dapat menjadi barometer perkembangan catur ASEAN adalah Pilipina. Bahkan Grandmaster utama Pilipina saat ini Wesley So (2738) termasuk dalam salah satu Grandmastes Super, jajaran pecatur-pecatur elit dunia (elo rating di atas 2600), saat ini berada di peringkat 20 besar dunia.

Masuknya catur dalam kegiatan Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) seharusnya dapat menjadi momentum bagi Pemerintah (melalui PERCASI dan DIKNAS) untuk memasyarakatkan catur dan mencaturkan masyarakat. O2SN merupakan salah satu ajang yang dapat dijadikan PERCASI untuk menjaring atlet-atlet catur berbakat, selain melalui KEJURNAS Catur. Namun seringkali O2SN, khususnya catur, dipandang sebelah mata. Hal ini karena catur memang bukan menjadi olahraga favorit di sekolah.

Sudah saatnya DIKNAS memberikan perhatian lebih terhadap kegiatan catur di sekolah ini, karena sudah banyak penelitian yang menyebutkan bahwa catur memiliki dampak positif terhadap perkembangan intelektual anak-anak. Pertanyaan besarnya adalah “Sudah tepatkah memasukkan catur menjadi pelajaran wajib di sekolah? Atau sudah cukup hanya dengan menyediakan wadah berupa ekstrakulikuler saja?” Silakan para master menjawabnya. Gens Una Sumus.

(sumber: http://www.bbc.co.uk/news/magazine-13140772, http://en.wikipedia.org/wiki/Chess_in_Armenia, http://www.pri.org/stories/2011-11-01/slideshow-learning-chess-elementary-school)

Artikel ini dimuat juga di http://olahraga.kompasiana.com/sport/2014/02/06/perlukah-catur-menjadi-pelajaran-wajib-di-sekolah-631444.html

About caturbandung
Saya bukanlah pecatur dan saya tidak paham tentang catur. Saya hanya orang tua dari salah seorang pecatur yunior kota Bandung yang ingin membagi informasi seputar olahraga catur. Mudah-mudahan bermanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: