Kasus Kecurangan Catur Kembali Terungkap


Hedgewar Open

NEW DELHI, http://www.caturbandung.wordpress.com – Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan teknologi IT saat ini sangat membantu para pecatur profesional dalam meningkatkan kemampuan dan daya analisis permainan caturnya. Banyaknya engine dan aplikasi catur yang dapat diunduh di smartphone membantu pecatur untuk memperkuat teori dan menganalisis partai-partai catur di mana saja dan kapan saja. Tidak heran jika saat ini muncul pecatur-pecatur muda berbakat, atau yang sering disebut dengan “prodigy”, yang merajai daftar pecatur terbaik dunia.

Meskipun membawa banyak kebaikan dalam kemajuan dunia catur, tidak dapat dipungkiri pula bahwa kemajuan dunia internet juga membawa dampak buruk. Kemudahan menggunakan bantuan aplikasi catur di smartphone sering disalahgunakan oleh beberapa pecatur untuk berbuat curang. Mereka menggunakan aplikasi ini untuk membantu “berpikir” saat melakukan pertandingan resmi. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengurangi praktek kecurangan ini, namun masih ditemui beberapa kasus kecurangan yang terjadi di seluruh dunia.

Kasus kecurangan penggunaan alat bantu smartphone yang terbadu terungkap di sebuah turnamen lokal di New Delhi, India. Surat kabar The Hindu memberitakan bahwa pada babak kelima Dr. Heggewar Open Chess Tournament hari Rabu 29 April 2015, Dhruv Kakkar diketahui menggunakan perangkat elektronik saat bertanding melawan Grandmaster Praveen Thipsay. Kakkar mengikat dua mobile-phone di kakinya dan menghubungkannya ke micro-speaker yang diselipkan di telinga kirinya.

Dhruv Kakkar (1517), pecatur muda berusia 19 tahun, berhadapan dengan unggulan 7 (tujuh) GM Praveen Thipsay (2409) di babak kelima Dr. Heggewar Open Chess Tournament. Melihat elo rating yang yang dimiliki keduanya, berbeda hampir 900 poin, Thipsay (meski memegang buah Hitam) diperkirakan dengan mudah akan memenangkan pertandingan. Dalam catur, elo rating yang dimiliki seorang pemain menggambarkan kekuatan atau kemampuan yang dimilikinya sehingga wajar jika Thipsay sangat diunggulkan melawan Kakkar.

Tetapi yang terjadi tidaklah demikian. Kakkar mampu meladeni dan bahkan menekan Thipsay, hingga pada akhirnya Thipsay harus menyerah di langkah 87. Namun selama pertandingan berlangsung, Thipsay telah beberapa kali melakukan komplain kepada chief arbiter, Dharmendra Kumar, tentang kemungkinan adanya kecurangan. “Saya mencatat bahwa ia (Kakkar) rata-rata menggunakan waktu sekitar 2 (dua) menit untuk melangkah, baik itu langkah rumit maupun langkah sederhana,” kata Thipsay.

“Saya menyampaikan kecurigaan saya kepada chief arbiter, namun dia meminta saya untuk melanjutkan permainan. Di langkah 29, saya mengetahui bahwa saya hampir pasti kalah dan mencoba menawarkan hasil imbang kepada Kakkar. Namun dia menolak. Saya semakin yakin dengan kecurigaan saya ketika dia tidak melihat langkah sederhana untuk merebut jalur utama, dan seolah-olah dia menunggu konfirmasi dari seseorang. Kadang-kadang saya berpikir bahwa Kakkar salah mendengar tentang langkah yang harus dijalankan (yang dikirim dari mobile-phone yang diikat di kakinya) dan bermain tidak benar.”

Pada akhirnya, sesaat setelah Thipsay menyerah, Kakkar dibawa pergi ke ruangan panitia untuk digeledah. Saat digeledah, di tubuhnya ditemukan dua baterai 9-volt yang tersimpan rapi di dalam kantong dan diikat ke sabuk di pinggang. Kedua baterai tersebut terhubung ke perangkat yang dikalungkan di leher, namun tidak kelihatan karena tersembunyi di bawah kemejanya. Baterai ini juga terhubung ke perangkat mobile-phone yang diikat di masing-masing kakinya, tepat di atas pergelangan kaki. Kakkar juga membawa dua baterai cadangan di tasnya untuk putaran berikutnya.

Panitia juga menemukan sebuah micro-speaker yang terselip di telinga kiri Kakkar. Micro-spekaer ini digunakan Kakkar untuk membantu mendengarkan langkah yang disarankan oleh temannya Shubham, yang duduk di depan komputer menggunakan engine catur Fritz, sekitar 220 km jauhnya di Yamuna Nagar di Haryana.

Dhruv Kakkar, seorang mahasiwa elektro tahun kedua dari JMIT di Yamuna Nagar, kemudian mengakui kecurangannya secara tertulis. Dia mengaku kepada The Hindu bahwa ia menggunakan alat itu untuk meraih kemenangan di 4 putaran pertama. “Saya membuat perangkat ini dan berlatih dengan teman saya selama tiga hari, sebelum menggunakannya dalam turnamen ini.” Dia menambahkan:” Shubham akan menanyakan langkah yang dimainkan oleh lawan saya. Saya akan menekan kaki saya sebagai tanda setuju jika langkah yang dikatakan teman saya benar. Dia kemudian akan membacakan pilihan terbaik yang disarankan oleh Fritz dan saya kemudian memainkannya.”

Chief Arbiter segera mengusir Kakkar dari turnamen sekaligus mendiskualifikasinya. Kakkar juga menunggu sangsi dari Federasi Catur India (AICF: All Indian Chess Federation). Pecatur berusia 19 tahun ini kemungkinan akan menghadapi larangan bertanding.

Kasus ini menambah panjang daftar pecatur yang terungkap melakukan kecurangan dalam satu dekade terakhir. Baru-baru ini seorang grandmaster Georgia GM Gaioz Nigalidze tertangkap tangan melakukan kecurangan saat bertanding melawan GM Tigran Petrosian (Armenia) di Dubai Open yang berlangsung tanggal 5-16 April 2015. Nigalidze menggunakan bantuan aplikasi catur di smartphone yang disembunyikannya di toilet (di bawah kertas toilet). Selama pertandingan Nigalidze beberapa kali pergi ke toilet untuk menganalisis langkah yang dilakukan lawannya. Smartphone ini akhirnya ditemukan oleh chief arbiter IA Mahdi Abdul Rahim. Setelah mendapat pengaduan dari Petrosian, chief arbiter kemudian mengikuti dan memeriksa toilet yang digunakan Nigalidze dan menemukan smartphone “bantuan” tersebut.

cheating-1

Kecurangan di Dubai Open 2015: Menyembunyikan Smartphone di Toilet

Kasus sebelumnya menimpa pecatur amatir Bulgaria Borislav Ivanov yang diskors dua kali oleh federasi Bulgaria setelah banyak bukti yang secara tidak langsung mendukung kecurigaan terhadap kecurangan yang dilakukannya. Banyak game-nya yang menunjukkan tingkat permainan lebih tinggi dari Magnus Carlsen dan tingkahnya selama pertandingan sangat aneh. Dia menolak untuk melepas sepatunya ketika diminta dan di sebuah turnamen di Spanyol pihak penyelenggara menemukan sebuah perangkat dengan kabel di punggungnya. Ivanov menolak untuk menunjukkan perangkat tersebut dan memilih meninggalkan turnamen meskipun ia sedang memimpin klasemen pada saat itu.

Pada tahun 2008, pemain Iran juga dilarang bertanding di Dubai Open setelah ia ditemukan menerima bantuan dari seseorang yang menonton pertandingan secara live di internet dan mengirim langkah yang disarankan melalui pesan teks.

Pada tahun 2010, grandmaster Jerman GM Falko Bindrich diduga melakukan kecurangan dalam pertandingan Bundesliga. Karena menolak menunjukkan mobile-phone-nya, dia langsung dinyatakan kalah. Federasi Catur Jerman kemudian menjatuhkan skorsing kepada Bindrich, namun keputusan ini harus dibatalkan karena alasan formal. Bindrich kemudian mengajukan gugatan terhadap Federasi Catur Jerman, namun akhirnya ditolak oleh pengadilan Berlin.

Masih di tahun yang sama, kasus kecurangan yang paling terkenal dilakukan oleh tiga pemain Perancis GM Sébastien Feller, GM Arnaud Hauchard dan IM Cyril Marzolo. Mereka menggunakan sistem yang canggih untuk melakukan kecurangan selama berlangsungnya Olimpiade Khanty-Mansiysk 2010. Mereka bertiga kemudian diskors dari turnamen oleh Komisi Etika FIDE.

Akibat banyaknya insiden kecurangan, Komite Anti-Kecurangan didirikan untuk memberikan nasehat terhadap federasi catur dunia FIDE. Pada tahun 2014, FIDE telah mengadopsi banyak rekomendasi dari Komite Anti-Kecurangan terhadap peraturan catur Laws of Chess terbaru yang dikeluarkannya.

Banyak jalan menuju Roma, Banyak cara (untuk) berbuat Curang!

Sumber: http://www.thehindu.com, http://www.chess.com, http://www.chessbase.com
Gens Una Sumus

About caturbandung
Saya bukanlah pecatur dan saya tidak paham tentang catur. Saya hanya orang tua dari salah seorang pecatur yunior kota Bandung yang ingin membagi informasi seputar olahraga catur. Mudah-mudahan bermanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: